Teknologi Jepang-Indonesia Hadapi Gempa dan Tsunami

0 80

Teknologi Jepang-Indonesia Hadapi Gempa dan Tsunami; Jika melihat Indonesia dari sisi letak geografis, posisi negara kepulauan ini bak mendapatkan ‘bonus’. Pasalnya, Indonesia merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik yang besar yakni Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasific.

Pertemuan lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia mempengaruhi Indonesia bagian barat. Subduksi keduanya yang menyebabkan terbentuknya deretan gunung berapi di Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Lombok. Sementara di bagian timur, kedua lempeng ini bertemu dengan lempeng pasific.

Teori mengatakan pergerakan lempeng tektonik inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa dan tsunami. Tak heran, mengapa Indonesia ‘langganan’ mengalami rangkaian bencana alam.

Tak hanya itu, posisi “strategis” Indonesia pun masuk ke dalam wilayah Cincin Api. Sekitar 90% gempa bumi terjadi pada lokasi cincin Api. Selain Indonesia, Jepang pun menjadi salah satu negara yang sering mengalami gempa dan tsunami.

Negara ini pun seperti Indonesia, dilewati oleh lempeng tektonik yakni Eurasia dan Pasific. Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), Jepang dan Indonesia menjadi negara yang paling sering mengalami gempa bumi.

Namun, yang membedakan Indonesia dan Jepang adalah teknologi gempa yang dimiliki dan aksi mitigasi. Jepang tampaknya cepat belajar dari gempa dan tsunami yang sudah menerjang sejak ratusan lalu.

Hasil penelusuran CNNIndonesia.com, Badan Meteorologi Jepang atau Japan Meteorological Agency (JMA) memiliki data yang sangat lengkap mengenai sejarah gempa dan tsunami yang sering menghampiri negara tersebut.

Dalam situs resmi mereka, seluruh pemetaan gempa yang pernah terjadi hingga sistem pengawasan dan mitigasi tercatat lengkap. Semua data bisa diakses oleh siapapun yang membuka situs tersebut.

Sistem peringatan dini tsunami dan gempa Jepang pun tercatat jelas dalam situs tersebut. Teknologi dan langkah apa saja yang dilakukan oleh negara matahari terbit tersebut.

Sayangnya, hal tersebut yang masih kurang dari Indonesia.

Peneliti Geofisika Kelautan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nugroho Dwi Hananto mengatakan teknologi early warning system (peringatan dini) tsunami Indonesia masih kalah dari Jepang.

Nugroho mengatakan di Jepang memiliki alat deteksi tsunami seperti buoy yang beroperasi penuh. Berbeda dengan Indonesia yang punya buoy tapi sudah tidak bisa dioperasikan.

“Indonesia harus mengejar ketertinggalan dari Jepang. Di mana, Jepang sudah memasang alat sensor dan pengukur tekanan air yang permanen dalam kedalaman tiga sampai empat ribu meter,” ujar Nugroho di kantor LIPI, Jakarta Selatan, Selasa (2/10).

Sementara Indonesia hanya mengandalkan seismometer untuk mendeteksi tsunami dan menggunakan GPS. Menurutnya, dari segi deteksi bencana, hal ini masih kurang mengingat Indonesia merupakan negara yang cukup sering mengalami gempa bumi yang bisa mengakibatkan tsunami.

“Di Indonesia kita belum punya, baru punya seismometer. Tapi hanya itu yang diandalkan, ada GPS tapi beda pengukurannya dan skala. Kita hanya bergantung pada seismometer,” tambah Nugroho.

Nugroho juga mengatakan setiap badan ilmiah maupun penanggulangan yang memiliki data harus saling berbagi. Data-data ini ia katakan sangat penting dalam mendeteksi bencana maupun untuk mempelajari bencana.

“Data yang kami peroleh itu harus diintegrasikan dari semua lembaga mengenai pengukuran dan early warningnya. Bagaiamana semua lembaga yang mempunyai data bisa berbagi secara real time untuk mitigasi bencana di masyarakat,” tutur Nugroho.

Faktanya, penggunaan buoy pernah Indonesia lakukan. Setelah kejadian tsunami Aceh yang membuat Tanah Air berduka. Indonesia memiliki sekitar 22 buoy. Sayangnya, aksi vandalisme dari masyarakat yang tak bertanggung jawab membuat teknologi tersebut lenyap.

Namun, merespon sistem peringatan dini yang minim, Ketua Indian Ocean Tsunami Information Centre Ardito M Kodijat justru memiliki pandangan yang berbeda. Dia menilai Indonesia sistem peringatan dini tsunami Indonesia sudah baik.

Ardito menjelaskan sistem peringatan dini tsunami yang diresmikan tahun 2008 tersebut, mampu memberikan peringatan dini dalam waktu kurang dari 5 menit. Bahkan, saat ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) fokus untuk dapat memberikan Peringatan Dini maksimal dalam waktu 3 menit setelah gempa potensi tsunami terjadi.

“Peringatan Dini Tsunami Indonesia saat ini dilengkapi dengan 17.000 skenario tsunami yang terintegrasi dalam platform pemodelan tsunami TOAST (Tsunami Observation and Simulation Terminal), yang dapat menghitung perkiraan waktu tiba dan ketinggian tsunami di pantai,” jelasnya.

Mitigasi Setelah Peringatan Dini

Tidak hanya sistem peringatan dini yang dibutuhkan untuk negara yang rawan gempa dan tsunami. Mitigasi menjadi salah satu langkah penting pemulihan masyarakat dan wilayah yang terkena bencana.

Berdasarkan situs JMA, mitigasi menjadi hal yang utama dari penanganan gempa dan tsunami. Materi mitigasi gempa tsunami bahkan masuk ke dalam pembelajaran anak-anak sedari bangku sekolah dasar.

Dari kecil, pendidikan mengenai tsunami dan gempa telah diberikan seperti langkah penyelamatan diri.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Tiar Prasetya mengungkapkan pentingnya pembangunan kultur.

“Kebiasaan kita kaget kemudian responsif. Setelahnya lupa. Secanggih apapun struktur kalau kultur belum tangguh akan sulit,” jelasnya Senin (1/10).

Kejadian gempa dan tsunami yang dialami Indonesia secara berturut-turut seharusnya bisa menjadi refleksi bagi pemimpin negara dan jajarannya. Pembenahan teknologi dengan alur deteksi yang lebih singkat bisa menjadi prioritas dan diurus serius selain mitigasi dan sosialisasi kondisi Indonesia yang rawan gempa.

Jepang telah membangun semua ekosistem tersebut puluhan tahun dan bisa terlihat ketangguhan negara tersebut saat ini. Indonesia seharusnya bisa melakukan hal yang serupa. Pasalnya, bencana tsunami dan gempa bukan hanya merugikan materi namun mempertaruhkan nyawa masyarakat.

Artikel Asli 

Kategori: ArtikelTag:
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Teknologi Jepang-Indonesia Hadapi Gempa dan Tsunami"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.